Tampilkan postingan dengan label aswaja-NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aswaja-NU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2018

PEMBUKAAN KONFERENSI PERIODIK KE V MWC NU KECAMATAN KARANGNUNGGAL



SUSUNAN ACARA
PEMBUKAAN KONFERENSI KE V
MWC NU KECAMATAN KARANGNUNGGAL
KABUPATEN TASIKMALAYA

HARI SABTU TANGGAL 08 DZULQA’DAH 1439 H. / 21 JULI 2018
PUKUL 08.00 – SELESAI


1.      Pembukaan                   
2.      Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an dan Solawat                        
3.      Lagu Indonesia Raya dilanjutkan Mars NU, Mars Subbanul Wathon dan Hymne NU
4.      Sambutan-Sambutan
a.       Ketua Panitia Konferensi
b.      Pengurus MWC NU Karangnunggal
c.       Camat Karangnunggal/Muspika
d.      Pengurus Cabang NU Kab. Tasikmalaya
       (sekaligus membuka acara Konferensi Periodik V 
        MWC NU Kec. Karangnunggal)
5.      Penutup/Doa

RANCANGAN MATERI SIDANG KOMISI REKOMENDASI KONFERENSI KE V MWC NU KARANGNUNGGAL 2018


Materi Sidang Komisi C (tentang : Rekomendasi)

RANCANGAN MATERI
SIDANG KOMISI REKOMENDASI
KONFERENSI KE V MWC NU KARANGNUNGGAL

A.   MUQODDIMAH
      Proses Demokratisasi di Negara kita dewasa ini ternyata belum di barengi dengan peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi serta penguatan masyarakat sipil, sehingga masih terjadi pertumbuhan masyarakat sipil yang tidak terarah akibat dari permasalahn masa lalu dalam bangsa ini.
      Sebagai organisasi sosial  keagamaan, Nahdlatul Ulama’ sejak berdirinya telah berupaya untuk membangun gerakan sosial, ekonomi dan politik, denganl melakukan pembelaan, pendampingan, pemberdayaan  dan pelayanan.
      Wilayah Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya yang bermartabat dan beradab  adalah dambaan dan idaman semua warga khususnya kaum Nahdliyin. Keshalehan spiritual dan keshalehan sosial harus bergerak pararel agar bisa menuntaskan permasahan riil yang sedang terjadi dimasyarakat, seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan dan sumber daya alam, korupsi, narkoba, penanggulangan terorisme , ajaran sesat, kenakalan remaja dll. Untuk itu menuju satu abad NU di Tahun 2026 melalui Konferensi MWC NU Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya yang bertempat di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Cibeunying Karangnungal tanggal 21 Juli 2018 merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :

B.   BIDANG AGAMA
  1. Istilah pembaharuan agama yang selama ini dihembuskan oleh kelompok yang mengaku dan mendeklarasikan diri sebagai pembaharu keagamaan baik yang berlatar belakang tradisional maupun modern yang justru memunculkan faham dan perilaku yang jauh dari nilai agama bahkan cenderung meresahkan masyarakat, maka Konferensi MWC NU Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya menekankan bahwa ide pembaharuan merupakan suatu keharusan seiring berjalannya perubahan kehidupan namun harus tetap berpegang pada kaidah al Muhahafadhah ‘ala al qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah ( mempertahankan ide ide lama yang baik dan mengambil ide ide baru yang lebih baik), selalu berpedoman pada faham Ahlu sunnah wal jama’ah ‘an Nahdliyah.
  2. Sebagian dari kelompok konservatif radikal, yang sebenarnya dipengaruhi oleh gerakan transnasional, tersebut telah mengarah pada gerakan intoleran, kekerasan, ekstrimisme bahkan terorisme dengan mengatasnamakan jihad dan pelaksanaan pemurnian agama. Yang penyebarannya tidak hanya melalui Masjid, pendidikan formal maupun non formal bahkan sudah melalui segala aktifitas masyarakat yang tentu akan mengganggu kehidupan masyarakat yang harmonis, kerukunan ummat beragama bahkan integritas bangsa. Oleh karena itu Konferensi merekomendasikan agar pemegang otoritas pemerintahan, para tokoh agama, muballigh dan pendidik :1) menyadari bahaya berkembangnyapaham Islam  radikal yang membahayakan kehidupan bangsa. 2) Berupaya mengintensifkan penyebaran Islam yang rahmatan lil alamin dengan mengedepankan prinsip Tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), dan tawazun (seimbang) sesuai dengan kondisi obyektif kemajmukan. 3) mewaspadai munculnya radikalisme dan ekstrimisme di wilayah Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
  3. Perbaikan Akhlaq merupakan suatu hal yg tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan beragama dengan selalu berupaya memperbaiki diri secara pribadi maupun organisasi. Oleh karena itu Konferensi ini merekomendasikan agar semua pihak, yang meliputi pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan untuk memperhatikan persoalan akhlaq dan karakter warga Pacet yang terus dihadapkan dengan perkembangan sosial budaya pariwisata akibat dari gerak laju globalisasi melalui berbagai upaya baik berupa dakwah, pendidikan, dan keteladanan agar akhlak kita selamat dari pengaruh negatif globalisasi.
C.   BIDANG PENDIDIKAN
  1. Permasalahan kualitas pendidikan yang sampai sekarang menjadi permasalahan yang sangat rumit di lembaga pendidikan bisa jadi disebabkan oleh karena rendahnya kualitas guru, rendahnya motivasi dan minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Oleh karena itu Konferensi merekomendasikan agar dalam rangka peningkatan SDM yang berkualitas merupakan unsur yang penting, pemerintah hendaknya mengalokasikan anggaran pendidikan secara tepat guna untuk meningkatkan kualitas pendidik dan pendidikan dengan pemenuhan sarana dan prasarana  serta peningkatan kualitas pendidik baik di lingkungan pendidikan negeri maupun swasta.
  2. Permasalahn pendidikan non formal (Pondok Pesantren, TPQ, Madrasah Diniyah dll) yang selama ini mempunyai peran yang luar biasa dalam pembinaan masyarakat dan walaupun belum sepenuhnya diakomodir oleh pemerintah dalam pemenuhan sarana prasarana dan SDM nya, perlu mendapat perhatian khusus oleh semua pihak khususnya pemerintah desa. Oleh Karena itu Konferensi merekomendasikan agar pemerintah desa memberikan perhatian khusus pada lembaga non formal ini dengan memberikan alokasi anggaran bagi pemenuhan kebutuhan sarana prasarana dan peningkatan SDM pengelola / pelaksana lembaga tersebut.
  3. Masih kurangnya perhatian satuan pendidikan terhadap pemahaman pendidikan Aswaja / ke NU-an serta kurangnya loyalitas satuan pendidikan dalam hal ini madrasah terhadap LP. Ma’arif  NU sebagai induk organisasi. Oleh karena itu Konferensi merekomendasikan agar satuan satuan pendidikan memberi pelajaran Aswaja / ke NU-an di setiap tingkatan serta menekankan kembali loyalitas  satuan pendidikan terhadap LP Ma’arif dengan mengikuti program dan kebijakan yang di diprogramkan LP Ma’arif NU Cabang Kabupaten Tasikmalaya.
  4. Masih lemahnya SDM pengelola satuan pendidikan sehingga mengakibatkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap satuan pendidikan NU di wilayah Karangnunggal. Oleh sebab itu Konferensi merekomendasikan kepada pengelola satuan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap tantangan masa depan pendidikan yang semakin kompleks agar menjadi satuan pendidikan yang berkualitas dan mandiri.

D.   BIDANG SOSIAL EKONOMI
  1. Para petani yang sampai saat ini masih belum bisa beranjak dari permasalahn klasik yaitu ketergantungan pada pupuk pabrikan/ pestisida dalam pegelolaan lahan pertanian sehingga menyebabkan makin tingginmya biaya produksi. Oleh karena itu Konferensi merekomendasikan kepada tokoh pertanian, dinas pertanian untuk meningkatkan kualitas para kelompok tani untuk pengelolaan lahan yang efektif dan efisien dengan teknologi yang ramah lingkungan.
  2. Terjadinya pengalihan fungsi lahan pertanian mejadi lahan pertambangan  secara ekonomis berdampak positif bagi pemilik lahan dan para pekerja di bidang ini, namun dibalik itu semua menimbulkan banyaknya persoalan muali rusaknya lingkungan sekitar, reklamasi pasca penggalian dan rusaknya akses jalan sampai permasalahn sosial. Oleh sebab itu Konferensi merekomendasikan kepada pemerintah dan pelaku usaha di bidang ini agar menjalin komunikasi yang efektif agar segala akibat dapat di minimalisir dan kegiatan ekonomi tetap bisa berjalan dengan baik.
  3. Perhatian terhadap anak yatim dan masyarakat kurang mampu yang selama ini masih dilakukan secara sporadis dan insidental oleh beberapa pihak sehingga anak yatim masih menanggung beban berat kehidupannya. Oleh sebab itu Konferensi merekomendasikan kepada pemerintah dan tokoh masyarakat dengan mengalokasikan anggaran desa atau sebutan lainnya, untuk memperhatikan kelangsungan hidup dan pendidikan mereka.
  4. Munculnya beberapa panyakit masyarakat dari pengaruh teknologi, narkoba dan munculnya aliran yang meresahkan masyarakat. Oleh karena itu Konferensi merekomendasikan agar NU, pemerintah dan tokoh masyarakat manjalin komunikasi yang aktif dengan memasyarakatkan kegiatan yang positif baik kegiatan keagamaan maupun kegiatan ekonomi masyarakat untuk mencegah meluasnya penyakit masyarakat ini.
E.    PENUTUP
Demikian rekomendasi ini disusun agar dapat menjadi pertimbangan bagi pengambilan kebijakan di tingkat kecamatan dan desa dalam penyusunan program-program pemerintah, organisasi politik dan kemasyarakatan termasuk Nahdlatul Ulama.

Ditetapkan di : Karangnunggal
Pada Tanggal : 21 Juli 2018
Pukul             : …………….. WIB

KONFERENSI MAJELIS WAKIL CABANG
NAHDLATUL ULAMA KECAMATAN KARANGNUNGGAL
PIMPINAN SIDANG



(__________________)                                  (________________)
                                   Ketua                                                       Sekretaris

Kamis, 05 Februari 2015

PP-RMI NU Libatkan Santri di Jawa Barat Cegah Dini Terorisme



Cirebon, Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama melibatkan sedikitnya 50 santri dari pelbagai pesantren di Jawa Barat untuk bersama mencegah penyebaran terorisme. Mereka selama tiga hari Senin-Rabu (29/9-1/10) di pesantren Kempek Cirebon mempelajari terorisme, sebab, penyebaran pahamnya via online, hingga pencegahannya.

Pengasuh pesantren Kempek KH Mustofa Aqil Siroj mengatakan, pembahasan terorisme di pesantren bukan upaya penyadaran akan bahaya terorisme bagi kalangan santri. Penolakan pesantren dan santri tidak perlu diragukan terhadap paham teror.

“Kehadiran kita di pesantren ini mesti dipahami bahwa santri dan pesantren diajak untuk menanggulangi penyebaran paham teror yang kini dilakukan pihak tidak bertanggung jawab melalui pelbagai cara dan media,” kata Kiai Mustofa yang kini diamanahkan sebagai Katib Syuriyah PBNU, Selasa (30/9).

Saefudin dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mendukung pernyataan Kiai Mustofa. Menurutnya, kalangan santri penting terlibat dalam penyebaran paham terorisme.

“Di Jabar ini keamanan dari teroris raportnya merah, terbukti dengan pemboman di Mapolresta Cirebon. Kita bekerja keras bersama RMI untuk mengajak santri memutuskan penyebaran paham ini. Terorisme harus dicegah dengan cara bukan kekerasan,” kata Saefudin.

Pada satu sesi di pelatihan ini Sekretaris RMI NU KH Miftah Faqih memandu peserta untuk siap terjun di masyarakat. Ia membagi peserta ke dalam lima kelompok. Mereka diajak secara kritis menganalisa dan memahami perintah pembunuhan terhadap non muslim yang ada pada potongan Al-Quran dan hadits Rasulullah.

Menurut Kiai Miftah, analisa terhadap potongan Al-Quran dan hadits ini akan melatih peserta menghadapi mereka secara teologis. Ia mengajak peserta melihat potongan ayat dan hadits itu dilihat dari aspek asbabun nuzul, korelasinya dengan lain ayat, dan pesan moralnya.

“Ingat teks yang terlepas dari konteksnya akan melahirkan tasyisun nushusil muqaddasah (politisasi ayat dan hadits oleh kelompok tertentu demi kepentingannya),” kata Kiai Miftah.

Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama RMI NU, BNPT, dan Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (Pakar). (sumber : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,54819-lang,id-c,nasional-t,RMI+NU+Libatkan+Santri+di+Jawa+Barat+Cegah+Dini+Terorisme-.phpx)

SILATURRAHIM ULAMA NU SE PRIANGAN TIMUR




Sabtu, 24 Januari 2015 dimulai 09.00 Wib s/d 16.30 wib; bertempat di Aula IAIC (Institut Agama Islam Cipasung) telah dilaksanakan Kegiatan Silaturahim Ulama NU (Nahdlatul Ulama) se- Priangan Timur yang bertemakan " Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme Dalam Ketahanan Nasional". 
Kegiatan ini dihadiri oleh Dr. KH. Hasyim Muzadi (Rois Syuriah PBNU), Dr. KH. Cholil Napis, Dr. KH. Abdi Kurnia Johan, Dr. KH. Salahudin, Dr. KH. Solahudin Wahid (sesepuh Pontren Tebu Ireng Jombang - Jatim), Drs. KH. Abun Bunyamin, M.Si (sesepuh Pontren Cipasung), H. Uu Ruzhanul Ulum (Bupati Tasikmalaya), AKBP Susnadi, S.Ik (Kapolres Tasikmalaya), pengurus NU se- Priangan Timur, Kapolsek Jajaran Polres Tasikmalaya, dan tamu undangan 450 orang, terdiri dari PC NU dan MWC NU dari masing-masing Kabupaten/Kota se Priangan Timur.
Selama kegiatan berlangsung aman lancar serta penuh khidmat, karena semua nara sumber terus membekali dan mensuport agar NU ke depan jangan lemah dan lengah, sementara di tengah-tengah warga Nahdiyin Telah hadir berbagai virus alias tantangan yang terus menggerogoti warga Nahdiyin itu sendiri. Maka dengan bekal penguatan itu, diharapkan dari befrbagai pihak; NU harus kuat dan Bangkit untuk terus mempertahankan NKRI.
KH. Hasyim Muzadi menyatakan bahwa kalau warga NU sudah terkikis habis, maka NKRI akan menjadi seperti negara-negara timur tengah..............**